Gelar Gebyar Syawalan, GP Ansor Teladani K.H.R. Imam Puro

oleh -
Sarasehan yang bertajuk Gebyar Syawalan yang dilakukan GP Ansor Ranting Baledono
Sarasehan yang bertajuk Gebyar Syawalan yang dilakukan GP Ansor Ranting Baledono

PURWOREJO, purworejo24.com- K.H.R. Imam Puro merupakan salah satu tokoh penyebar Islam dan ajaran Tarekat di Purworejo. Hal itu terungkap dalam kegiatan sarasehan yang bertajuk “Gebyar Syawalan” yang dilakukan GP Ansor Ranting Baledono. Kegiatan sarasehan dan serangkaian acara yang lain digelar untuk yang pertama kalinya ini mengungkap tokoh penting penyebar Islam di Purworejo yang dahulu dikenal dengan nama Bagelen.

Serangkaian acara yang telah dimulai sejak tanggal 28-30 Mei 2021 ini diantaranya Muqoddaman (pembacaan Al-Quran secara bersama-sama), Khataman Al-Quran, tanam ratusan bibit tanaman kayu di area makam, menebar benih ikan di Sungai Bogowonto dan diakhiri sarasehan tentang sejarah K.H.R Imam Puro. Hal ini diharapkan dapat merajut silaturahim, menumbuhkan sikap gotong royong dan produktifitas masyarakat, khususnya generasi millenial.

Hadir dalam kesempatan tersebut KH R. Dawud Masykuri Rois Syuriah PRNU Baledono, H. Ahmad Hamdani, M.Pd., selaku Ketua PRNU Baledono, Hamid AK, S.Pd.I., ketua Bani Imam Poero dan Ketua MUI Kabupaten Purworejo, serta Dr. Ahmad Athoillah, M.A Peneliti Agama Islam Abad 19 & Alumni Doktoral Sejarah FIB UGM.

“Meneladani Mbah Imam Puro sebagai salah satu tokoh penyebar Islam di Purworejo serta tokoh Tarekat Syatariyah terbesar di Jawa Tengah,” kata H. Ahmad Hamdani kepada purworejo24.com usai kegiatan pada Minggu (30/05/2021).

Gebyar Syawalan GP Ansor Ranting Baledono dengan menebar benih ikan di Sungai Bogowonto
Gebyar Syawalan GP Ansor Ranting Baledono dengan menebar benih ikan di Sungai Bogowonto

Sementara itu Dr. Ahmad Athoillah, M.A Peneliti Agama Islam Abad 19 & Alumni Doktoral Sejarah FIB UGM pemateri dalam sarasehan menjelaskan K.H.R Imam Puro bernama asli Khasan Benawi, seorang keturunan ke-8 dari Joko Umbaran yang merupakan kerabat dekat Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja Mataram Islam. Setelah belajar agama Islam, Khasan Benawi hijrah ke Purworejo dan menetap di sana. Ia kemudian dikenal sebagai Kiai Raden Imam Puro. Beliau merupakan salah satu ulama besar Purworejo yang di kenal luas di eks Karesidenan Bagelen dan Kedu, bahkan wilayah lainnya. Pada abad 19 K.H.R Imam Puro memang sangat masyhur di Purworejo dan bahkan telahmemiliki ribuan santri dari seantero jawa untuk berguru tarekat Syathariyah kepadanya di Ngemplak, Purworejo.

“Sebelum tahun 1885, dapat dipastikan Kiai Imam Pura telah kembali ke Jawa dan mulai mengajarkan tarekat Syatariyahnya. Kiai Imam Pura memiliki metode pengajaran yang unik dan khas,” katanya saat mengisi sarasehan di Aula Al-Arifin di Langgar Endek Baledono.

Lanjut Dr Athoilah banyaknya santri Mbah Imam Puro disebabkan beliau mampu mempertahankan ciri khas Bagelen dan tarekat Syathoriyahnya ketika banyak tarekat lain mulai berkembang. Kiai Imam Pura berhasil memainkan pola sosial budaya yang ada di masyarakat Bagelen pada waktu itu.

“Ciri khas yang memiliki Islam model agraris pedalaman yang santri-priyayi serta tidak lepas dari identitas pesantren dan tarekat”, tambah Dr Athoillah.

Dr Athoillah menambahkan setidaknya ada tiga hal yang bisa digaris bawahi dari kiprah perjuangan Mbah Imam Puro. Yang pertama, Mbah Imam Puro ini memahami kearifan lokal, tahu
apa yang dibutuhkan dan digemari masyarakat pada waktu itu. yang kedua, Mbah Imam Puro memahami bahwa di daerah bagelen ini priyayi-santri masih memiliki tempat yang
tinggi.

“Beliau Memahami geneologi di Purworejo sehingga ajarannya dapat berkembang dengan pesat pada masa itu”, terangnya. (P24-Bayu)