Nanti Malam Fenomena Supermoon Akan Menghiasi Langit Purworejo

oleh -2.687 views
Supermoon (Foto BMKG)
Supermoon (Foto BMKG)

PURWOREJO, purworejo24.com – Fenomena Alam semesta yang unik dan langka menjadi momen yang akan sangat dinanti-nantikan oleh banyak orang di seluruh dunia pada tahun ini. Supermoon 2020 atau bulan purnama terbesar dan yang paling terang akan muncul di langit Bumi mulai Selasa (7/4/2020) petang hingga Rabu (8/4/2020) dini hari.

Seperti yang ditulis di website Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, bmkg.go id, jika langit cerah, supermoon akan mulai terlihat senja hari Selasa, 7 April 2020. Jika langit sedang cerah, akan terlihat bulatan Bulan yang ukurannya cukup besar dibandingkan biasanya. Pada malam itu bulan sedang menuju jarak terdekatnya dari Bumi pada tahun ini. Semakin malam ia akan semakin dekat hingga pada tengah malam 8 April 2020 pukul 01.08 WIB, Bulan berada di perige dengan jarak 356.910 km dari Bumi.

Pada saat tersebut, jari-jari Bulan yang tampak dari Bumi adalah sebesar 16,73 menit busur. Delapan jam 27 menit kemudian Bulan pun berada pada fase purnama. Karena itu, pada malam tersebut, Bulannya disebut sebagai purnama perige atau dikenal juga sebagai supermoon.

Hal senada juga disampaikan seorang astronom Bruce McClure dari Earth Sky, seperti  dilansir Courier Journal pada Senin (6/4/2020).

“Lihatlah bulan purnama terbesar tahun ini yang akan bersinar sepanjang malam. Bulan akan muncul setelah matahari terbenam pada 7 April (2020) besok, naiklah ke area tinggi di malam hari atau sekitar tengah malam,” ujar

Supermoon terjadi ketika bulan sangat dekat dengan Bumi dan membentuk penuh objek seperti purnama. Kedekatan bulan dengan Bumi, secara alami, membuatnya terlihat sangat dekat dan sangat terang, bahkan diperkirakan hingga 14 persen lebih besar dan 30 persen lebih terang dari bulan purnama pada titik terjauh dari planet manusia.

Istilah “supermoon” diciptakan pada 1979 oleh ahli astrologi Richard Nolle. Ini kemudian menjadi istilah yang semakin populer dalam beberapa dekade sejak itu.

Menurut Badan Antriksa AS (NASA), istilah supermoon digunakan oleh media untuk menggambarkan apa yang para astronom sebut sebagai  bulan purnama perigean. Ini adalah bulan purnama yang terjadi di dekat atau pada saat bulan berada pada titik terdekatnya dalam orbitnya di sekitar Bumi. Karena efek optik yang dikenal sebagai ilusi bulan, bulan purnama bisa tampak besar ketika naik di belakang objek yang jauh di cakrawala. Supermoon tampak sangat mengesankan.

Bulan purnama perige pada 8 April 2020 itu merupakan salah satu dari tiga supermoon pada 2020 ini. Dua supermoon lainnya terjadi pada 10 Maret 2020 yang sudah lewat dan 7 Mei 2020 yang akan datang. Pada kedua supermoon ini, ukuran jari-jari Bulannya sedikit lebih kecil daripada ukuran Bulan purnama perige pada 8 April 2020 nanti. Karena itu, supermoon 8 April 2020 merupakan “puncak” supermoon pada 2020 ini.

Pada lain waktu, Bulan purnama pun akan terjadi saat jarak Bumi-Bulan sedang dalam jarak terjauh atau apoge. Bulan purnamanya dikenal sebagai purnama apoge atau yang lebih dikenal dengan minimoon, yang akan terjadi pada 2 Oktober 2020, 31 Oktober 2020, dan 30 November 2020. Pada ketiga purnama itu, jarak Bumi-Bulannya lebih besar daripada 400.000 km sehingga ukuran jari-jari Bulan yang tampak dari Bumi akan kurang dari 15 menit busur.

Dapatkah kita membedakan kapan suatu Bulan dalam kondisi supermoon atau minimoon? Tentu saja dapat, jika kita memfoto Bulan baik saat supermoon maupun saat minimoon dengan peralatan dan pengaturan yang identik. Dengan membandingkan kedua citra bulan purnama yang biasanya terpisah 6 bulan itu, akan didapati bahwa jari-jari Bulan saat di perige adalah 14% lebih besar daripada jari-jari Bulan saat di apoge. Demikian juga kecerlangan keduanya yang berbeda 30%. (P24-Bayu)