Dampak Virus Corona, Shalat Jumat di Masjid Agung Purworejo Jamaah Menurun

oleh -78 views
Hand sanitizer di masjid Agung Purworejo sebagai upaya mencegah persebaran virus coron (Covid-19)
Hand sanitizer di masjid Agung Purworejo sebagai upaya mencegah persebaran virus coron (Covid-19)

PURWOREJO, purworejo24.com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) merilis Fatwa Nomor 14 Tahun 2020 yang antara lain melarang umat menyelenggarakan ibadah salat Jumat di kawasan yang mengancam penyebaran COVID-19 tidak terkendali, dan boleh mengganti salat Jumat dengan salat Dzuhur di rumah. Entah karena fatwa tersebut atau bukan, sholat Jumat di Masjid Agung Purworejo jumlahnya menurun dari biasanya.

Fatwa tersebut juga meminta umat Islam diminta untuk menjaga kebersihan dan kesehatan dengan membawa perlengkapan salat ketika di masjid serta rajin mencuci tangan.

Lukman Dwi Saputra salah satu jamaah Sholat Jumat mengatakan bahwa fatwa MUI tersebut tidak berlaku di Purworejo karena Purworejo bukan dalam kawasan yang sudah terjangkit virus.

“Meskipun begitu kita tetap berupaya social distancing agar kita juga berperan dalam mengendalikan persebaran virus Covid-19 ini,” katanya kepada purworejo24.com usai shalat Jumat (20/03/2020).

Jumlah jamaah shalat jumat (20/3/2020) di Masjid Agung Purworejo terlihat lebih sedikit ketimbang jumat sebelumnya.
Jumlah jamaah shalat jumat (20/3/2020) di Masjid Agung Purworejo terlihat lebih sedikit ketimbang jumat sebelumnya.

Ia juga mengatakan bahwa pengelolaan masjid Agung Purworejo dinilai sudah baik dalam mengantisipasi dan mencegah persebaran virus dengan menyediakan media informasi terkait etika batuk/bersin. Lalu, menyediakan sabun cair di setiap tempat wudlu, hand sanitizer di dalam masjid, dan mengingatkan jamaah untuk selalu mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer sebelum memulai aktivitas.

“Di setiap pintu juga ada hand sanitizer yang bisa digunakan jamaah, jadi kita tidak khawatir,” katanya.

Sementara itu Ahmad Fais salah satu jamah yang biasa ke masjid Agung Purworejo saat shalat Jumat kali ini ia lebih menggunakan ilmu Ushul Fiqihnya dalam menghadapi fenomena Corona ini. Ia mengatakan bahwa lebih baik menolak suatu hal yang merusak dari pada memperoleh kebaikan dengan resiko yang besar.

“Ya lebih baik mencegah dari pada timbul kemadharatan yang lebih besar, kita juga mengikuti imbaun pemerintah agar tidak banyak berkumpul dengan masa yang banyak,” katanya. (P24-Bayu)