Maharaja Jawa Kanjeng Sinuwun Totok Santosa Hadiningrat didampingi permaisuri Kanjeng Ratu Dyah Gitarja
Pemerintahan Politik Seni Budaya

Rancu, Sejarawan Tanggapi Sejarah Keraton Agung Sejagat di Purworejo

PURWOREJO, purworejo24.com – Ramai menjadi isu pemberitaan di Purworejo, tentang Keraton Agung Sejagat. Sejarawan dan budayawan Purworejo, Soekoso DM pun angkat bicara. Soekoso menyatakan sejarah yang disampaikan oleh pimpinan kelompok yang menyatakan sebagai Keraton Agung Sejagat ini perlu dikaji literaturnya karena agak rancu dan terkesan ngayawara.

Soekoso saat ditemui di kediamannya di Pangenrejo, Purworejo mengatakan bahwa sejarah tentang adanya Keraton Agung Sejagat yang berada di Desa Pogungjurutengah tersebut harus dibuktikan dengan adanya literatur yang jelas dan dapat dipertanggung jawabkan.

“Ya itu harus ada bukti yang kuat atau dasarnya apa perjanjian yang sudah disebutkan, kalau dasarnya saja sudah tidak jelas seperti ini ya tidak bisa diterima masyarakat,” katanya kepada purworejo24.com pada Selasa (13/01/2020).

Soekoso DM, Budayawan dan Sejarawan Purworejo
Soekoso DM, Budayawan dan Sejarawan Purworejo

Ia menambahkan bahwa jangankan Keraton Agung Sejagat yang baru muncul tersebut, sejarah Nyai Bagelen saja yang sudah dimaklumi masyarakatnya Purworejo masih kurang kuat secara akademis karena literaturnya kurang.

“Legenda Nyai Bagelen saja yang memang sudah sangat mashur belum kuat secara akademis kok, apalagi keraton tersebut. Ini sedikit rancu bahwa kalau dikatakan Imperium Kerajaan Majapahit runtuh tahun 1518,”katanya

Menurutnya sejauh sejarah yang telah ia pelajari, berdasarkan literasi yang ada, Kerajaan Majapahit runtuh tahun 1478. Jika dikatakan Kerajaan Majapahit masih melakukan perjanjian dengan Portugis tahun 1518 adalah sebuah sejarah yang tidak berdasar.

“Kalau tahun Saka runtuhnya (Majapahit) adalah tahun 1400 dengan sengkala ‘Sirna Ilang Kertaning Bumi’. Karena ada perbedaan dengan tahun Masehi dan tahun Saka adalah 78 tahun,” katanya.

Soekoso juga menyatakan Majapahit luruh tahun 1478 M, namun ada trahnya yang membangun kerajaan Demak. Bahkan pada jaman Ratu Kalinyamat pernah menyerang Portugal di Malaka dan berlanjut menjadi kerajaan Pajang, lalu Mataram Islam. Kemudian ada rekayasa Belanda sehingga pecah jadi Sala dan Jogja (perjanjian Giyanti 1755).

Terkait literatur Stadblaad Atlantic yang disebut oleh kelompok yang menyebut dirinya Keraton Agung Sejagat, Soekoso mengaku belum mengatahui hal ini.

“Kalau ada perjanjian 500 tahun di Malaka, saya malah bingung. Yang tanda tangan siapa, penguasa mana saat itu?  Ya masih perlu kajian metodologi sejarahnya. Raja Agung Sejagat ini terkesan ngayawara,” ungkap Soeksoso.

Hal ini menjawab pernyataan sebelumnya oleh pimpinan Keraton Agung Sejagat Kanjeng Sinuwun Totok Santosa Hadiningrat didampingi permaisuri Kanjeng Ratu Dyah Gitarja pada Minggu (12/01/2019) saat konferensi pers di Dalem Poh Agung, Desa Pogungjurutengah Kecamatan Bayan, Purworejo,Minggu (12/1/2010). Saat itu keduanya mengatakan Keraton Agung Sejagat menggelar Wilujengan untuk menyambut kedatangan Sri Maharatu Jawa kembali ke tanah Jawa setelah perjanjian 500 tahun. Terhitung sejak hilangnya kemaharajaan nusantara, yaitu imperium Majapahit pada tahun 1518 sampai tahun 2018.

“Perjanjian 500 tahun tersebut dilaksanakan oleh Dyah Ranawijaya sebagai penguasa terakhir Imperium Majapahit dengan Portugis sebagai wakil orang-orang barat di Malaka pada tahun 1518. Maka setelah perjanjian tersebut berakhir kekuasaan harus dikembalikan ke tanah Jawa,” ucapnya. (P24-Bayu/Nuh)

Tinggalkan Balasan