Tak Puas Terdakwa Pembunuhan Dituntut 20 Tahun, Ratusan Warga Gelar Demo

oleh -75 views
Tak Puas Terdakwa Pembunuhan Dituntut 20 Tahun, Ratusan Warga Gelar Demo.
Tak Puas Terdakwa Pembunuhan Dituntut 20  Tahun, Ratusan Warga Gelar Demo.

PURWOREJO, purworejo24.com – Ratusan warga Desa Panggeldlangu, Purworejo Jawa Tengah dan keluarga korban pembunuhan mendatangi kantor Kejaksanaan Negeri Purworejo dan kantor Pengadilan Negeri (PN) Purworejo. Mereka melakukan aksi protes terhadap tuntutan yang diberikan JPU yang dirasa terlalu ringa, dalam perkara pembunuhan yang menewaskan tiga orang tersebut.

Ratusan warga beserta datang dengan membawa sejumlah spanduk dan memasangnya di pintu masuk pengadilan dengan berbagai tulisan protes terhadap JPU. Aksi protes itu lakukan bersamaan dengan gelar sidang terdakwa dalam agenda pembacaan pembelaaan, yang digelar di kantor pengadilan negeri Purworejo pada Kamis (10/10/2019).

Tak Puas Terdakwa Pembunuhan Dituntut 20 Tahun, Ratusan Warga Gelar Demo.
Tak Puas Terdakwa Pembunuhan Dituntut 20 Tahun, Ratusan Warga Gelar Demo.

Kuasa hukum korban, Didik Haryanto, mengatakan, tuntutan jaksa tidak rasional dan sangat menyesalkan,  karena fakta yang terungkap diabaikan oleh JPU.

“Dengan diabaikannya fakta persidangan, maka unsur perencanaan sesuai pasal 340 tidak terpenuhi, sementara fakta persidangan unsur perencanaan terbukti. Dari keterangan saksi di persidangan menyebut bahwa terdakwa telah menyiapkan obat bius, lakban dan pisau dari Jakarta,” kata Didik.

Fakta lain, lanjutnya, jika terdakwa ingin menyelesaikan permasalahan, mengapa harus masuk dengan cara memecah kaca rumah korban. Fakta lain juga bahwa terdakwa pernah mengirim pesan ancaman kepada korban juga diabaikan oleh JPU.

“Untuk meminta keadilan, kami sudah melayangkan protes ke Kejari Purworejo dan kami tembuskan ke Kejati Jawa Tengah,” katanya.

Disampaikan, pihak keluarga dan warga tetap meminta hukuman mati bagi terdakwa Gunardi karena dinilai sangat sadis, yaitu dengan cara membunuh tiga anggota keluarganya yaitu istri dan kedua mertuanya dengan cara dipukul memakai batang kayu.

“Dalam persidangan, saat ditanya oleh Hakim, terdakwa mengaku jika ia mengira bahwa anaknya yang masih hidup saat kejadian sudah meninggal padahal saat itu korban pingsan. Dengan terus terang, terdakwa mengaku jika tahu belum meninggal akan dipukul lagi hingga meninggal. Bahkan semua yang dia temui akan dipukul,” lanjutnya.

Didik mengatakan bahwa dia telah menyiapkan dua orang saksi, Rohim dan Suyono yang akan membuka bahwa unsur perencanaan akan terpenuhi.

“Sebelum kejadian, Rohim dan Suyono dimintai tolong oleh ibu terdakwa untuk menasihati Gunardi agar jangan membunuh keluarga Yahyono (korban, mertua terdakwa). Berarti jauh hari sudah ada niatan untuk menghabisi keluarga istrinya tersebut,” jelasnya.

Kuasa hukum terdakwa, Is Supriyono, SH, mengaku sepakat dengan JPU bahwa tidak ada unsur perencanaan dalam peristiwa tersebut. Pengacara juga meminta kepada Majelis Hakim yang diketuai oleh Mardison SH untuk memohon keringanan hukuman terhadap terdakwa.

Menanggapi pembelaan terdakwa, JPU menyatakan tidak akan menanggapi pada pokoknya masih tetap pada tuntutan yang telah dibacakan beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Humas Pengadilan Neberi Purworejo, Syamsumar Hidayat menyampaikan bahwa dalam persidangan ada usulan dari pihak korban melalui pengacaranya agar dibuka sidang sekali lagi guna mendengarkan keterangan saksi dari pihak JPU.

“Mengacu pada pasal 182 KUHAP atas permintaan Penuntut Umum, sidang dapat dibuka sekali lagi untuk mendengarkan saksi dari JPU. Jadi agenda sidang tanggal 24 Oktober mendatang bisa jadi dua, pertama apabila Majelis Hakim pemeriksaan keterangan saksi dari PU yang diajukan oleh keluarga korban karena ada satu saksi yang belum dimintai keterangan oleh MH ataupun penyidik. Agenda kedua adalah pembacaan vonis,” pungkas Syamsumar. (P24-Drt)